Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]



Tidak ada peninggalan atau situs-situs bersejarah seperti candi, prasasti atau benda-benda kuno lainnya yang dapat menunjukkan asal-usul Desa Semaan. Sejarah desa ini hanya dapat terekam dari cerita-cerita tetua desa (para bangaseppo) berdasarkan apa yang pernah mereka tahu dan didengar dari para moyang Desa Semaan.
Dari beberapa cerita sejarah yang berhasil kami himpun dapat diketahui ahwa atau air yang mengalir sepanjang perbukitan tersebut. Sumber-sumber mata air tersebut banyak namun aliran airnya kecil dan letaknya berpencar, sehingga ada inisiatif dari nenek moyang waktu itu untuk menyumbang (nganceng)  beberapa sumber pada awal mulanya Semaan berupa tanah perbukitan dan banyak terdapat sumber mata air dan membuatkan satu tempat penampungan yang dapat mengalirkan air tersebut ke lahan pertanian mereka. Tempat galian sumber mata air tersebut kemudian dikenal orang dengan nama Somber Kanceng yang sekarang menjadi Sumber Kacceng. Demikian pula tempat tersebut orang-orang menyebutnya kampung Kanceng, sekarang kita mengenalnya dengan sebutan Dusun Kacceng.
Somber Kacceng tidak hanya dimanfaatkan oleh warga untuk mengairi sawah, namun juga sebagai tempat untuk mandi dan cuci. Tak heran banyak musafir dari luar daerah yang singgah ke tempat ini. Selain tempatnya yang sejuk, orang-orangnya juga ramah. Kemudian atas inisiatif mushafir itu, dibangunlah mushola di atas tanah wakaf yang terletak di samping somber. Mushola itu selain digunakan sebagai tempat ibadah sholat fardhu juga dijadikan tempat untuk melakukan kajian-kajian islam dan semaan al Quran oleh para musafir dan warga setempat.
Dari seringnya musafir dan warga mengadakan kegiatan semaan al Quran di tempat ini kemudian orang menyebutnya sebagai Desa Semaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]